Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini. Ceramah, Demonstrasi, Simulasi, Bermain, Karya Wisata
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam metode mengajar, yang dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan berbagai hal, seperti situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
Metode pembelajaran merupakan media transformasi dalam pembelajaran, agar kompetensi yang diharapkan dalam pembelajaran tercapai.Metode yang bervariasi sesuai dengan kompetensi yang diharapkan akan merangsang minat dan motiviasi peserta didik, dengan motivasi yang kuat, maka prestasi belajar akan meningkat.
Menurut Sudjana (2005), “metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan Sutikno (2009) menyatakan “metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan definisi/pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi (2009) menyatakan, “tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik”. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam pembelajaran passing bawah bolavoli, antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif dan konvensional.
2. Fungsi Metode Pembelajaran
● Menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (siswa) memperoleh kemudahan dalam belajar.
● Untuk mewujudkan dan menyajikan bahan ajar berupa media yang relevan. Dengan demikian, tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik oleh peserta didik (siswa).
● Sebagai pedoman teoritis yang logis dan rasional yang disusun oleh guru bagi para siswa. Selanjutnya, pedoman tersebut dapat dijadikan model sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil mencapai tujuan.
● Sebagai sarana komunikasi penting. Tentang bagaimana proses mengajar di kelas, atau bagaimana praktik dalam mengawasi siswa saat belajar.
3. Jenis Jenis Metode Pembelajaran
A. Ceramah
Ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau pendidik. Hal ini disebabkan karena adanya kebiasaan baik dari guru maupun dari siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah.
Kelebihan metode ceramah:
● Ceramah merupakan metode yang “murah” dan “mudah” untuk dilakukan. Murah dalam hal ini dimaksudkan proses ceramah tidak memerlukan peralatan yang lengkap. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan suara guru.
● Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat.
● Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi mana yang perlu ditekan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
● Melalui ceramah guru dapat dengan mudah mengontrol keadaan kelas.
● Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana.
Kelemahan metode ceramah:
● Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Siswa tidak mendapatkan pengalaman lain selain yang diceramahi oleh guru.
● Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme.
● Guru yang kurang memiliki kemampuan berbahasa yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan.
● Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum, walaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya.
Langkah langkah menggunakan metode ceramah:
a. Tahap persiapan
● Merumuskan tujuan yang ingin dicapai
● Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan
● Mempersiapkan alat bantu
b. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan:
● Langkah pembukaan:
- Yakinkan bahwa siswa memahami tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu, guru perlu mengemukakan terlebih dahulu tujuan yang harus dicapai.
- Lakukan langkah apersepsi, yaitu menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
● Langkah penyajian:
- Menjaga kontak mata terus menerus dengan siswa
- Gunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami
- Sajikan materi pelajaran secara sistematis
- Tanggapilah respon siswa dengan segera
- Jagalah agar kelas tetap kondusif dan menggairahkan untuk belajar
● Langkah mengakhiri atau menutup ceramah
- Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan
- Merangsang siswa untuk menanggapi materi pelajaran
- Melakukan evaluasi
B. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret.
Kelebihan metode demonstrasi:
● Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
● Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
● Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.
Kelemahan metode demonstrasi:
● Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
● Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai. Yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan metode ceramah.
● Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.
Langkah- langkah metode demonstrasi:
a. Tahap persiapan
● Rumuskan tujuan yang harus dicapai siswa setelah proses demonstrasi berakhir
● Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan
● Lakukan uji coba demonstrasi
b. Tahap pelaksanaan
● Langkah pembukaan:
- Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang akan didemonstrasikan
- Kemukakan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
- Kemukakan tugas yang harus dilakukan oleh siswa
Langkah pelaksanaan:
- Mulailah demontrasi dengan kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir
- Ciptakan suasana yang menyejukkan
- Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi
- Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif
Langkah mengakhiri demontrasi:
Apabila demontrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demontrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran.
C. Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.
Kelebihan metode simulasi:
● Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
● Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peran sesuai dengan topik.
● Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
● Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial.
● Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.
Kelemahan metode simulasi:
● Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
● Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
● Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.
Jenis jenis simulasi:
● Sosiodrama, yaitu metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia.
● Psikodrama, yaitu metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis.
● Role playing, yaitu metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, peristiwa aktual, atau kejadian yang mungkin muncul di masa depan.
Langkah-langkah metode simulasi
a. Persiapan simulasi:
- Menetapkan topik serta tujuan yang hendak dicapai
- Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan distimulasikan
- Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
b. Pelaksanaan simulasi:
- Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran
- Para siswa lainnya mengikuti peran dengan penuh perhatian
- Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan
- Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini bertujuan untuk mendorong siswa berpikir.
c. Penutup:
- Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan.
- Merumuskan kesimpulan.
D. Metode Bermain
Menurut Mulyasa (2012: 169-173) jenis-jenis bermain yang dapat digunakann sebagai metode pembelajaran bagi anak usia dini yaitu bermain sosial, bermain dengan benda, dan bermain peran.
1. Bermain Sosial
Dalam bermain sosial, gurulah yang mengamati cara bermain anak dan dia akan memperoleh kesan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan bermain dengan teman-temannya akan menunjukkan derajat partisipasi yang berbeda. Parterm mengelompokkan kegiatan bermain berdasarkan derajat partsipasi seorang dalam bermain; yaitu unoccupied play (tidak peduli), solitary play (soliter), onlooker play (penonton), parallel play (pararel), assosiative play (asosiatif) dan cooperative play (kooperatif).
2. Bermain dengan Benda
Bermain dengan benda merupakan kegiatan bermain ketika anak dalam menggunakan atau mempermainkan benda-benda tertentu dan benda-benda tersebut dapat menjadi hiburan yang menyenangkan bagi anak yang bermainnya. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini harus menyiapkan berbagai permainan, sekaligus menyediakan benda-benda yang dapat digunakan secara aman dan nyaman bagi anak-anak dalam bermain. Tipe bermain dengan benda meliputi bermain praktis, bermain simbolik, dan bermain dengan aturan.
3. Bermain Peran
Pendidikan anak usia dini sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan bidang pengembangan maupun menyangkut hubungan sosial. Melalui bermain peran, anak-anak mencoba mengekplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama dapat mengekplorasi perasaan, sikap, nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi model ini berusaha membantu anak-anak menemukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam pada itu, melalui model ini anak-anak diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelas.
Kelebihan metode bermain:
• Merangsang perkembangan motorik anak, karena dalam melakukan kegiatan melakukan banyak gerakan.
• Melatih kemandirian anak dalam permainan dengan tidak menggantungkan diri pada orang lain.
• Merangsang berpikir anak, karena dalam kegiatan melakukan pemecahan masalah.
• Melatih disiplin anak, karena dalam permainan ada aturan yang harus dipatuhi.
• Anak lebih semangat belajar, karena naluri anak usia dini adalah bermain, dan bermain adalah belajar.
Kelemahan metode bermain:
• Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang aktif.
• Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukkan.
• Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menyebabkan gerak pemain kurang bebas.
• Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya
Langkah-langkah metode bermain
Tahap persiapan
• Merumuskan tujuan yang hendak dicapai
• Menjelaskan manfaat dari permainan
• Menentukan tempat bermain
• Mempersiapkan bahan atau Media yang dibutuhkan
Tahap pelaksanaan
Pembukaan:
- guru mengkomunikasikan kepada siswa tujuan bermain
- guru membimbing anak untuk memilih permainan
- guru menjelaskan cara bermain
Pelaksanaan:
Anak melakukan kegiatan yang sudah dipilih
Penutupan:
Guru memberikan penghargaan kepada anak yang sudah melakukan kegiatan dengan baik dan benar berupa bintang
Tahap penutupan
Guru bersama anak sama-sama mendiskusikan tentang kegiatan pada hari tersebut.
E. Metode Karya Wisata
Mulyasa (2005) Metode field trip atau karya wisata merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipunkarya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.
Langkah- langkah Pokok dalam Pelaksanaan Metode Karyawisata
1. Perencanaan Karyawisata
a) Merumuskan tujuan karyawisata.
b) Menetapkan objek kayawisata sesuai dengan tujuan yang hendak di-capai.
c) Menetapkan lamanya karyawisata.
d) Menyusun rencana belajar bagi siswa selama karyawisata.
e) Merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan.
2. Pelaksanaan Karyawisata
Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata de-ngan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.
3. Tindak Lanjut
Pada akhir karyawisata siswa diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya Wina.2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media
Rahmadhani, Yulia Riski. 2020. Metode dan Teknik Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Yayasan Kita Menulis
Aditya, Dedy Yusuf. 2016. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Resitasi Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Jurnal SAP. 1 (2) :166-167
Maesaroh Siti. 2013. Peranan Metode Pembelajaran Terhadap Minat dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam. Jurnal Kependidikan. 1 (1): 154
Yanto Ari. 2015. Metode Permainan Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS. Jurnal Cakrawala Pendas. 1 (1): 55
Komentar
Posting Komentar