Mendidik Anak Usia Dini Dengan Metode Abdullah Nashih Ulwan
Pada bagian kedua dari kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam karya Abdullah Nashih Ulwan pembaca dapat menjumpai bahasan tentang beberapa tanggung jawab besar para pendidik dan orang tua atas pendidikan anak, baik yang berkenaan dengan Iman, moral, mental, jasmani maupun rohani. Sudah barang tentu tanggung jawab yang telah dibicarakan dan diuraikan secara detail ini adalah tanggung jawab yang paling besar dalam pendidikan anak.
Tahapan dalam mendidik anak
1. Pendidikan dengan Keteladanan
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode yang paling sukses untuk
mempersiapkan akhlak seorang anak, dan membentuk jiwa serta rasa sosialnya.
Sebab, seorang pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak dan akan
menjadi panutan baginya. Disadari atau tidak, sang anak didik akan mengikuti
tingkah laku pendidiknya. Bahkan akan terpatri kata-kata, tindakan, rasa dan nilainya dalam jiwa dan perasaannya, baik ia tahu maupun tidak tahu. Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik-buruknya anak. Jika pendidikan jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran,
terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan perbuatan yang bertenatngan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik adalah seorang pembohong, penghianat, orang yang kikir, penakut, dan hina, maka
si anak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut, dan
hina.
Dengan demikian, perlu diketahui oleh para ayah, ibu dan pendidik
bahwa pendidikan dengan memberikan teladan yang baik adalah penopang dalam
upaya meluruskan kenakalan anak. Bahkan merupakan dasar dalam meningkatkan keutamaan, kemuhaan dan etika sosial yang terpuji. Tangan memberikan teladan yang baik, pendidikan anak-anak tidak akan berhasil dan nasehat tidak akan berpengaruh karenanya, bertakwalah kepada Allah, wahai para pendidik dalam mendidik anak-anak kita. Mendidik mereka adalah tanggung jawab yang dibebankan atas pundak kita. Sehingga kita dapat menyaksikan buah hati kita sebagai matahari perbaikan, purnama petunjuk, yang anggota masyarakat dapat menikmati sinarnya dan becermin kepada akhlak mereka yang mulia.
2. Pendidikan dengan Adat Kebiasaan
Mendidik dan membiasakan anak sejak
kecil adalah upaya yang paling terjamin berhasil dan memperoleh buah yang
sempurna. Sedangkan mendidik dan melatih setelah anak berusia dewasa, maka jelas di dalamnya terdapat kesulitan-kesulitan bagi orang-orang yang hendak
mencari keberhasilan dan kesempurnaan.
3. Pendidikan dengan Nasehat
Termasuk metode pendidikan yang cukup berhasil dalam pembentukan
akidah, anak, dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial,
adalah pendidikan anak dengan petuah dan memberikan kepadanya nasehat-
nasehat. Karena nasehat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata kesadaran anak-anak akan hakikat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam. Karenanya, tidak heran kalau kita tahu bahwa Al- Quran menggunakan metode menyerukan kepada manusia untuk melakukannya, dan mengulang-ulangnya dalam beberapa ayat Nya.
4. Pendidikan dengan Perhatian
Yang dimaksud pendidikan dengan perhatian adalah senantiasa
mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan meperhatikan kesiapan mental dan sosial, di samping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya. Sudah barang tentu bahwa pendidikan semacam ini merupakan modal dasr yang dianggap paling kokoh dalam pembentukan manusia seutuhnya yang sempurna, yang menunaikan hak setiap orang yang memilikinya dalam kehidupan dan termotivasi untuk menunaikan tanggung jawab dan kewajiban secara sempurna. Melalui upaya tersebut akan tercipta muslim hakiki, sebagai batu pertama untuk membangun pondasi Islam yang kokoh.
5. Pendidikan dengan Hukuman
Dengan memberi hukuman, anak akan jera dan berhenti dari berperilaku buruk. Ia akan mempunyai perasaan dan kepekaan yang menolak mengikuti hawa nafsunya untuk mengerjakan hal-hal yang diharamkan. Tanpa ini, anak akan terus-
menerus berkubang pada kenistaan, kemungkaran dan kerusakan.
Komentar
Posting Komentar