Fungsi Dan Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bermain adalah hak setiap anak. Bermain merupakan lahan anak-anak dalam mengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan dan tanpa paksaan. Pada mulanya, bermain dianggap sebagai kegiatan yang dipandang sebelah mata. Awalnya kegiatan bermain belum mendapat perhatian khusus dari para ahli ilmu jiwa, mengingat masih kurangnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak pada masa lalu (Sugianto 1995:4). Namun, dengan kemajuan teknologi dan dukungan hasil penelitian mutakhir menjadikan kegiatan bermain menempati urutan pertama pada kegiatan untuk anak-anak.
Bermain adalah kegiatan untuk bersenang-senang yang terjadi secara alamiah. Dengan bermain mereka akan memperoleh kesenangan, kanikmatan, informasi, pengetahuan, imajinasi, dan motivasi bersosialisasi.
 Bagi orang dewasa kegiatan bermain yang dilakukan anak-anak merupakan hal sepele dan membuang waktu. Namun, tidak untuk anak-anak, dengan bermain mereka dapat mengembangkan aspek sosial, membangun kreativitas, serta mengasah kemampuan fikir dan kebahasaan anak dalam berkomunikasi. Melalui bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya dan lingkungan sosialnya (Sugianto 1995:11).
Demikian pula halnya dengan kegiatan bermain dan permainan yang terjadi dalam ruang lingkup taman kanak-kanak. Banyak orang tua dan masyarakat disekitarnya yang beranggapan bahwa bermain itu memerlukan banyak biaya padahal banyak alat permainan yang berasal dari bahan alam dan barang bekas. Jadi sangat diperlukannya sosialisasi peahaman tentang fungsi dan manfaat bermain bagi anak usia dini untuk para orang tua dan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan bermain ?
2. Apa saja fungsi bermain bagi anak usia dini?
3. Apa manfaat bermain bagi anak usia dini ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari bemain
2. Untuk mengetahui fungsi bermain bagi anak usia dini
3. Untuk mengetahui manfaat bermain bagi anak usia dini
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bermain
Menurut pendapat Sudono (2003:65), bermain adalah pekerjaan masa kanak-kanak dan cermin pertumbuhan anak dan bermain merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi anak itu sendiri. Melalui bermain anak memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Para ahli psikologi anak menekankan pentingnya bermain bagi anak. Bagi anak-anak, bermain merupakan kegiatan yang alami dan sangat berarti. Dengan bermain anak mendapat kesempatan untuk mengadakan hubungan yang erat dengan lingkungan.
Menurut Hurlock (1993: 22), bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain juga dapat dikatakan sebagai aktivitas yang menggembirakan, menyenangkan dan menimbulkan kenikmatan. Bermain merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak, dengan kegiatan tersebut anak mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan. Bennett mengemukakan bahwa permainan mempunyaifungsi pendidikan dan perkembangan karena memampukan anak untuk mengendalikan perilaku mereka dan menerima keterbatasan di dunia nyata serta melanjutkan perkembangan ego dan pemahaman atas realitas.
Bermain merupakan keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang individu yang sifatnya menyenangkan, menggembirakan, dan menimbulkan kenikmatan yang berfungsi untuk membantu individu mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional. Bermain merupakan kegiatan santai, menyenangkan tanpa tuntutan (beban) bagi anak. Bermain juga merupakan kebutuhan yang esensial bagi anak. Melalui bermain anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan demensi motorik, kognitif, kreatifitas, emosi, sosial, nilai, bahasa dan sikap hidup. 
2.2 Fungsi Bermain Bagi Anak Usia Dini
Bermain merupakan kegiatan yang menimbulkan “kenikmatan”, dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya. Bermain berfungsi juga sebagai pemicu kreativitas, anak yang banyak bermain akan meningkatkan kreativitasnya. Dengan bermain anak akan melakukan segalanya, mencoba, mengeksplorasi sehingga pada akhirnya akan muncul ide-ide kreatifnya untuk bermain. Pada hakikatnya melalui aktivitas bermain dapat merangsang dan mengembangkan seluruh perkembangannya baik fisik maupun psikis. Fungsi bermain meliputi seluruh aspek perkembangan seperti diuraikan berikut:
a. Perkembangan kognitif
 Melalui kegiatan bermain anak belajar berbagai konsep bentuk, warna, ukuran dan jumlah yang memungkinkan stimulasi bagi perkembangan intelektualnya. Anak juga dapat belajar untuk memiliki kemampuan ‘problem solving’ sehingga dapat mengenal dunia sekitarnya dan menguasai lingkungannya
b. Perkembangan Bahasa
Aktivitas bermain adalah ibarat laboratorium bahasa anak, yaitu memperkaya perbendaharaan kata anak dan melatih kemampuan berkomunikasi anak. Dalam melakukan aktivitas permainan, anak dituntut harus belajar berkomunikasi dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain ketika bermain. Contohnya saat bermain drama anak diminta berimajinasi aktif bercakap-cakap dengan anak lain tentang hal yang terkait dengan cerita pada drama tersebut.
c. Perkembangan Moral
Bermain membantu anak untuk belajar bersikap jujur, menerima kekalahan, menjadi pemimpin yang baik, bertenggang rasa dan sebagainya. Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab. Melalui permainan, anak akan melakukan hubungan dan komunikasi dengan anggota kelompok atau teman sebaya lainnya, sehingga ini akan melatih anak belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif dan disukai orang.
d. Perkembangan Sosial dan Emosional
bermain bersama teman melatih anak untuk belajar membina hubungan dengan sesamanya. Anak belajar mengalah, memberi, menerima, tolong menolong dan berlatih sikap sosial lainnya. yang menggunakan alat permainan. Bermain merupakan ajang yang baik bagi anak untuk menyalurkan perasaan/emosinya dan ia belajar untuk mengendalikan diri dan keinginannya sekaligus sarana untuk relaksasi. Pada beberapa jenis kegiatan bermain yang dapat menyalurkan ekspresi diri anak, dapat digunakan sebagai cara terapi bagi anak yang mengalami gangguan emosi.
e. Perkembangan Fisik Bermain
memungkinkan anak untuk menggerakkan dan melatih seluruh otot tubuhnya, sehingga anak memiliki kecakapan motorik dan kepekaan penginderaan. Permainan menitik beratkan anak pada keterampilan dalam mengkoordinasikan gerakan motorik maupun motorik halus. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas anak yang dilakukan secara berulang-ulang seperti berlari, memanjat, naik sepeda, lompat dan dapat memperkirakan tingginya suatu pohon dengan kemampuan untuk memanjat pohon tersebut sehingga hal ini akan mengembangkan fisik-motorik anak.
f. Perkembangan Kreativitas
bermain dapat merangsang imajinasi anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai ideanya tanpa merasa takut karena dalam bermain anak mendapatkan kebebasan. Melalui coba-coba dalam bermain, anak-anak akan menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi di luar dunia bermain.
2.3 Manfaat Bermain Bagi Anak Usia Dini
Bermain selain merupakan alat belajar juga merupakan kebutuhan
bagi setiap anak. Diperlukan waktu yang cukup banyak untuk bermain bagi
anak.terutama pada anak usia dini, menurut Laurence Tecik (dalam Satya, 2006)
diperlukan 4-5 jam perhari bagi anak untuk bermain, pada saat bermain anak dapat
memenuhi kebutuhan geraknya. Kebutuhan 4-5 jam tersebut tidak mungkin dipenuhi pada jam pelajaran di sekolah. Oleh sebab itu guru dan orang tua harus dapat memenuhi kebutuhan gerak anak didiknya dengan berbagai alternatif permainan yang dapat dimainkan siswa saat belajar, yaitu dengan cara bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain yang dapat dilakukannya di rumah maupun di sekolah.
 Sedangkan menurut Claparade (dalam Satya, 2006) bermain bukan hanya memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan organ tubuh anak yang
disebabkan aktif bergerak tetapi bermain juga berfungsi sebagai proses sublimasi
artinya suatu pelarian dari perasaan tertekan yang berlebihan menuju hal-hal posiif,
melalui sublimasi anak akan menuju kearah yang lebih mulia, lebih indah dan lebih
kreatif. Adapun manfaat lain dari bermain bagi anak :
a. Anak dapat kesempatan untuk mengembangkan diri, baik perkembangan fisik (melatih keterampilan motorik kasar dan motorik halus), perkembangan psiko
sosial (melatih pemenuhan kebutuhan emosi) serta perkembangan kognitif
(melatih kecerdasan)
b. Bermain merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi
c. Bermain bagi anak adalah untuk melepaskan diri dari ketegangan
d. Bermain merupakan dasar bagi pertumbuhan mentalnya
e. Melalui bermain anak–anak dapat mengeluarkan energi yang ada dalam
dirinya kedalam aktivitas yang menyenangkan
f. Melalui bermain anak-anak dapat mengembangkan imajinasinya seluas
mungkin
g. Melalui bermain anak-anak dapat berpetualang menjelajah lingkungan dan
menemukan hal-hal baru dalam kehidupan
h. Melalui bermain anak dapat belajar bekerjasama, mengerti peraturan, saling
berbagi dan belajar menolong sendiri dan orang lain serta menghargai waktu.
i. Bermain juga merupakan sarana mengembangkan kreatifitas anak
j. Bermain dapat mengembangkan keterampilan olahraga dan menari
k. Melatih konsentrasi atau pemusatan perhatian pada tugas tertentu
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Menurut pendapat Sudono , bermain adalah pekerjaan masa kanak-kanak dan cermin pertumbuhan anak dan bermain merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi anak itu sendiri. Melalui bermain anak memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Para ahli psikologi anak menekankan pentingnya bermain bagi anak. Bagi anak-anak, bermain merupakan kegiatan yang alami dan sangat berarti. Dengan bermain anak mendapat kesempatan untuk mengadakan hubungan yang erat dengan lingkungan.
2. Menurut Hurlock , bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bermain juga dapat dikatakan sebagai aktivitas yang menggembirakan, menyenangkan dan menimbulkan kenikmatan. Bermain merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak, dengan kegiatan tersebut anak mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan.
3. Bermain merupakan kegiatan yang menimbulkan «kenikmatan», dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya. Bermain berfungsi juga sebagai pemicu kreativitas, anak yang banyak bermain akan meningkatkan kreativitasnya. Dengan bermain anak akan melakukan segalanya, mencoba, mengeksplorasi sehingga pada akhirnya akan muncul ide-ide kreatifnya untuk bermain. Pada hakikatnya melalui aktivitas bermain dapat merangsang dan mengembangkan seluruh perkembangannya baik fisik maupun psikis.
4. Bermain selain merupakan alat belajar juga merupakan kebutuhan bagi setiap anak. Diperlukan waktu yang cukup banyak untuk bermain bagi anak.terutama pada anak usia dini, menurut Laurence Tecik diperlukan 4-5 jam perhari bagi anak untuk bermain, pada saat bermain anak dapat memenuhi kebutuhan geraknya.
5. Sedangkan menurut Claparade bermain bukan hanya memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan organ tubuh anak yang disebabkan aktif bergerak tetapi bermain juga berfungsi sebagai proses sublimasi artinya suatu pelarian dari perasaan tertekan yang berlebihan menuju hal-hal posiif, melalui sublimasi anak akan menuju kearah yang lebih mulia, lebih indah dan lebih kreatif.
3.2 Saran
1. Dengan mengetahui fungsi dan manfaat bermain bagi anak, maka di harapkan kita tidak lagi terlalu membatasi atau bahkan melarang anak untuk bermain. Karena dengan bermainlah anak belajar dan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Elfiadi. (2016). BERMAIN DAN PERMAINAN BAGI. Itqan, Vol. VII, No. 1, 53-55.
NailiRohmah. (2016). BERMAIN DAN PEMANFAATANNYA DALAM PERKEMBANGAN. Jurnal Tarbawi Vol. 13. No. 2., 29.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fungsi Dan Tujuan Penilaian Pada Pendidikan Anak Usia Dini

Pengertian tokoh antagonis, protagonis dan tritagonis dalam cerita

Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini. Ceramah, Demonstrasi, Simulasi, Bermain, Karya Wisata